SATE KLATHAK PAK BARI

Lezatnya Sate Khas Imogiri, Pembeli pun Rela Mengantri
Tusuk jeruji tak hanya membuat sate klathak jadi unik, namun juga membuat tiap potongan daging kambing makin lezat karena matang merata. Rangga dan Cinta dalam AADC 2 saja sudah pernah mencicipi sate racikan Pak Bari ini, kamu kapan?



Kisaran harga                   = Rp 20.000 / porsi
Buka setiap hari kamis = 18.30 WIB - habis
Lokasi:
Pasar Jejeran Wonokromo, Jalan Imogiri Timur, Pleret, Bantul, Yogyakarta

Pasar Jejeran Wonokromo masih tampak ramai meskipun waktu sudah lewat pukul 7 malam. Jalanan pasar yang tak terlalu lebar tampak dipenuhi dengan deretan kendaraan mulai motor, mobil bahkan bis-bis pariwisata saat kami tiba di lokasi. Pasar yang di siang hari menjadi tempat jual beli suku cadang sepeda motor ini pun berubah menjadi tempat kuliner sate klathak racikan Pak Sabari.

Sate klathak adalah sate kambing yang dibakar di atas bara api seperti kuliner sate pada umumnya. Namun yang membedakan adalah tusuk satenya. Alih-alih menggunakan bambu, potongan daging kambing ditusuk-tusuk dengan jeruji sepeda yang terbuat dari besi sebelum dibakar. Penggunaan jeruji besi sebagai pengganti tusuk bambu ini pun dipercaya membuat daging kambing matang merata karena sifat besi yang menghantarkan panas dengan baik.

Selepas maghrib, sekitar pukul 18.30 Pak Sabari atau yang lebih akrab disapa Pak Bari ini sudah mulai berjualan sate klathak dibantu 7 orang karyawannya. Melihat antrian pelanggan yang semakin panjang, kami pun tak mau membuang-buang waktu untuk segera ikut memesan makanan. Takutnya pesanan kami akan semakin lama dilayani. Karena sejak muncul di film AADC 2 saat Rangga mentraktir Cinta, Sate Klathak Pak Bari makin populer dan ramai pembeli. Bahkan menurut Pak Bari, 50 kilogram sate yang biasanya baru habis pukul 2 dini hari, kini bisa tandas pukul 9 malam dengan jumlah daging dua kali lipat.

"Silahkan mas, mau pesan apa? Ada sate klathak, tongseng, tengkleng, gulai jeroan. Mau pesan yang mana? Berapa porsi?" Seorang karyawan Pak Bari pun menanyai salah satu dari kami saat kami merapat ke rombong sate.

Usaha kuliner turun temurun yang diwarisi Pak Bari dari ayahnya ini memang tak hanya menyediakan menu sate klathak, tapi juga beberapa menu olahan kambing lainnya. Sedangkan untuk minumannya tersedia jeruk hangat, teh hangat, es jeruk dan es teh. Spesialnya, semua minuman hangat yang tersedia tidak menggunakan gula pasir melainkan gula batu. Kami pun memutuskan memesan sate klathak, tongseng kambing dan tak lupa minumannya. Usai memesan kami pun segera menuju lesehan bertikar di lorong-lorong pasar karena meja kursi yang disediakan sudah penuh pembeli lain yang mengantri sedari tadi.

Pak Bari adalah generasi ketiga yang melanjutkan usaha kuliner sate klathak, seperti cerita beliau pada kami di sela-sela kesibukan menusuk-nusuk potongan daging sebelum dibakar. "Yang pertama kali jualan sate itu simbah saya, Mbah Ambyah. Sudah jualan sejak sebelum kemerdekaan katanya. Setelah itu diteruskan sama bapak saya, Pak Wakidi. Nah, baru sekitar tahun 1992 saya yang melanjutkan, tapi bantu jualannya sudah dari umur 15 tahun."

Pemilihan lokasi jualan di Pasar Jejeran pun bukan tanpa alasan. Menurut penuturan Pak Bari, Pasar Jejeran dulunya memang sudah menjadi tempat Mbah Ambyah berjualan setelah sekian lama menjajakan sate dengan berkeliling memikul rombong sate. Hanya saja dulu Mbah Ambyah berjualan di bawah pohon waru bukan di los pasar seperti sekarang. Sepeninggal Mbah Ambyah, Pak Wakidi meneruskan usaha kuliner ini dengan menyewa ruko sebagai tempat berjualan. Setelah berkali-kali pindah ruko, akhirnya tempat jualannya kembali ke lokasi yang kini telah dibangun pasar.

Penamaan sate klathak pun baru diberikan saat Pak Bari yang meneruskan usaha kuliner tersebut. Semua berawal dari kebiasaan beliau mencari biji melinjo untuk dijual sebagai tambahan uang saku di sela-sela membantu berjualan sate. Saat sedang membakar sate, Pak Bari iseng menempelkan biji melinjo di daging kambing yang dibakarnya. Bagi warga di kawasan Imogiri, daging melinjo juga disebut dengan klathak. Dari situlah ide penamaan sate klathak muncul. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa nama sate klathak berasal dari pembakaran daging kambing yang berbunyi "klathak-klathak".

Cukup lama kami menunggu pesanan diantar mengingat banyaknya antrian. Saat saya mencoba gigitan pertama sate klathak, daging kambingnya mengeluarkan rasa asin yang begitu dominan. Kuliner sate yang sudah lama jadi langganan Riri Riza, Mira Lesmana dan beberapa artis ibukota ini memang hanya dibumbui garam saat dibakar, tanpa bumbu kacang, bawang merah maupun cabai seperti sate kebanyakan. Karena itulah sate klathak juga disebut sate berbumbu minimalis. Rasanya akan nikmat ketika kita sudah memadunya dengan kecap dan kuah gulai. Daging satenya pun terasa empuk karena hanya menggunakan daging kambing berusia 8 hingga 9 bulan dan dibakar tidak terlalu kering namun matang merata. Sama seperti satenya, tongseng kambing racikan Pak Bari juga tak kalah sedapnya, perpaduan pedas dan manisnya terasa pas di lidah.

Pak bari menjual seporsi sate klathak dengan harga Rp 20.000 sudah termasuk nasi, kuah gulai serta segelas minuman. Dalam seporsi sate klathak terdiri dari 2 tusuk sate yang masing-masing tusuknya berisi 6 potong daging kambing. Sejenak saya berpikir kalau porsinya terlalu kecil. Namun ternyata porsi ini adalah takaran yang pas untuk penderita hipertensi seperti penuturan ahli gizi, Ati Nirwanawati yang dikutip dari Kompas," Penderita hipertensi sebaiknya makan daging sebanyak 50 gram sekali makan atau setara dengan 2-3 tusuk sate tanpa lemak". Selain dipercaya bisa meningkatkan tekanan darah, ternyata daging kambing bisa mencegah anemia karena mengandung kalori, protein dan zat besi yang cukup tinggi sehingga bisa menambah Hemoglobin. Bagaimana, masih mau melewatkan kuliner sedap nan bergizi ini?

Sumber: https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-culinary/sate-klathak-pak-bari/

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SATE KLATHAK PAK BARI"

Posting Komentar